Terima Kasih Meluangkan Waktunya, Keep Smile. #LegendPao

KENANGAN PADA LEMBARAN HITAM

Legend Pao - Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh dan semoga kita semua berada dalam lindungan Allah Subhanahu Wata'ala, serta Salam dan Sholawat kepada junjungan kita semua Nabi yang membawa manusia dari kegelapan menuju terang benderang Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Entah dari mana saya akan memulai tulisan ini, yang ada sekarang tulisan ini mengalir begitu saja. Ada ribuan kisah atau semacam motivasi namun waktu untuk menulisnya sangat sedikit dikarenakan beberapa aktivitas, dan semoga saja tiap postingan saya selalu menjadi masukan yang berarti bagi pembaca.

Dulu sewaktu saya masih kecil yang saya ingat mungkin saya masih berumur 4 tahun atau 5 tahun itu menjadi waktu yang kelam buat ibu saya, saya tak bisa bayangkan bagaimana mentalnya jatuh pasca meninggal dunianya ayah sehingga beban dipundaknya menjadi berat untuk menghidupi dirinya serta 4 orang anaknya.
Sebelum lanjut lebih jauh, saya ingin menceritakan saat hari dimana ayah meninggal dunia, saat itu saya sedang tidur siang seperti biasanya. Tiba - tiba tante saya berteriak teriak yang tak jelas saya mendengar apa yang dia teriakkan, sampai saya terbangun lalu digendongnya saya dan meletakkan saya diatas karpet biru membentang sepanjang ruang tamu. Hingga mulailah berdatangan orang ramai ke rumah dan saat itu saya masih belum melihat ibu dimana, dan ayah dimana, dan kenapa orang - orang berdatangan begitu ramai, entah apa yang terjadi kejadian setelah itu saya sekarang lupa hingga memaksa masuk kedalam fikiran yang begitu dalam untuk mencari tau setelah itu saya melakukan apa? Ibarat roll film ada titik noda diantaranya sehingga sebagiannya hilang hanya layar hitam kosong.

Yang bisa saya temukan didalam tumpukan kenangan yang berada dalam otak saya adalah saat hari dimana ayahku wafat adalah saya sedang bermain disebuah taman yang banyak bunga berwarna merah tapi bukan mawar, entah bunga apa itu namun saya bermain dan memetik bunga - bunga itu, saya sangat menikmati permainan itu dan belakangan saya tau bahwa bunga itu nantinya akan ditabur pada makam ayahku.

Setelah itu yang saya ingat adalah rumah saya sudah ramai luar biasa, makanya saya main di luar rumah lebih tepatnya pas di depan rumah saya, karena saya dilarang masuk dulu, entah kenapa, dan dari mana saya tau tapi saya rasa saat itu ayah saya lagi dimandikan. Saya terus bermain seperti anak - anak lain pada umumnya, hingga ingatan saya berpindah didalam sebuah mobil taxi, di dalam mobil itu ada ibu saya dan ada orang lagi selain supir di dalam taxi itu. Kadang beberapa waktu ibu menoleh ke kaca belakang taxi itu dan saya mencoba untuk ikut menoleh, yang ku dapat adalah banyaknya motor keluar dari salah satu lorong perumahan yang tadinya dilewati oleh taxi yang saya tumpangi dan saya berfikir saat itu bahwa tak ada yang aneh karena seperti biasa pasti banyak kendaraan yang keluar masuk di lorong itu.
Seingat saya, tidak ada juga mobil ambulance yang keluar dari lorong tersebut jadi wajar saya menganggapnya sesuatu yang normal saja.
Namun beberapa saat saya melihat ada mobil warna putih keluar dari lorong tersebut, ada beberapa orang turun dari motornya dan menghalangi mobil lain agar berhenti dan mempersilahkan mobil putih itu berbelok ke jalan raya setelah itu sirinenya pun berbunyi.
Sesampainya d perkuburan yang saya lihat hanya gunung menjulang berwarna kuning, tanah kuning terhampar, saya bingung kami akan berbuat apa di area itu?
Sebuah lubang persegi panjang tepat didepan dan hanya itu yang masih tersisa didalam ribuan kenangan bertumpuk di dalam otak saya, beberapa diantaranya ada yang sudah hitam tak terbaca.

Setelah dua puluh tahunan berlalu, ibu saya menceritakan kembali kejadian saat itu namun ada beberapa juga yang tidak diingatnya. Namun ada yang menarik dari cerita ibu saya saat itu ketika kami sekeluarga sedang duduk santai di salah satu ruangan rumah.

Yang menarik itu adalah kenangan yang sudah menjadi lembaran hitam tak terbaca ternyata masih bisa terbaca dalam memori ibuku, saat jasad ayah saya terbaring di ruang tamu saat itu katanya saya berkata kepada ibu "kenapa bapak tidur terus?" Dan masih banyak lagi yang baru saya tau.

Tak banyak kenangan yang bisa saya ingat saat ayah masih hidup, sayang rasanya lembaran - lembaran kenangan itu menjadi hitam, mungkin waktu yang lama untuk kembali saya mencari kenangan itu. Sesuatu hal yang saya rindukan sebagai seorang anaknya untuk terus menyayanginya.

-Legend Pao-

Related : KENANGAN PADA LEMBARAN HITAM

0 Komentar untuk "KENANGAN PADA LEMBARAN HITAM"

KRITIK DAN SARAN ADA? ATAU INGIN BERBAGI CERITA? CARI JODOH? SEDIA DIKOLOM KOMENTAR